Ali Subandi

18 Juni 1936 - 7 Juni 2003

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
2 Timotius 4 : 7


“Membicarakan Sejarah Jemaat DHI adalah seakan-akan membicarakan beberapa “mosaic gambar” yang di rangkai & di hubungkan satu dengan yang lain. ”

Di sekitar penghujung dekade tahun 80-an, Pdt S.E. Rumajar adalah gembala Jemaat Tanjung Anom, Gereja Advent terbesar saat itu di Kota Surabaya. Pada saat itu belum ada satupun Gereja Advent di daerah timur Kota Surabaya walaupun ada banyak anggota Gereja Advent yang berdomisili di daerah timur Surabaya.

Menyaksikan kenyataan ini, Pdt. S.E. Rumajar bersama istri, Ibu Ruth Rumajar-Adam, memiliki kerinduan yang besar yang senantiasa mereka bawah dalam doa, “Tuhan jika Engkau kehendaki biarlah Engkau yang akan mengatur segala sesuatu agar satu waktu kelak akan ada gereja di daerah Timur Kota Surabaya”. Jika melihat latar belakang ini, maka benarlah kata Firman Tuhan dalam Yakobus 5:16, “…Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Belakangan Doa ini benar-benar didengar oleh Tuhan.

Pdt. S.E. Rumajar bersama istri, Ibu Ruth Rumajar-Adam
Pdt. S.E. Rumajar bersama istri, Ibu Ruth Rumajar-Adam

Keinginan kuat ini timbul karena selain memang di timur kota Surabaya saat itu belum ada gereja, juga karena ketika Pdt. Rumajar masih menjadi Gembala Jemaat Tanjung Anom, salah seorang anggota jemaat di sana, berdomisili di daerah timur Surabaya, tepatnya di daerah Dharmahusada Indah, Blok D no 59. Dialah Ibu Ruth Sidharta Enoch, seorang ibu yang saat itu menjadi aktivis gereja yang begitu giat dan setia, dan menjadi Anggota Majelis di Jemaat Tanjung Anom. Dia dan kedua anaknya, Natasha & Samuel, aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja tapi sayangnya saat itu suaminya, Bpk Jack Sidharta, belum menjadi anggota Gereja Advent.

Keluarga ini sesungguhnya adalah sahabat lama keluarga Pdt Rumajar sejak beliau menjadi Gembala di Semarang pada tahun 1970-an dan kembali bertemu di Surabaya saat Pdt Rumajar menjadi Gembala di Tanjung Anom. Selama menjadi Gembala di sana, Pdt Rumajar secara rutin mengajar khusus Bpk Jack Sidharta yang pada saat itu masih penganut ajaran Buddha untuk mengenal kebenaran-kebenaran Alkitab dan Gereja Allah. Dari keluarga inilah menjadi salah satu “mosaic gambar” penting dalam sejarah berdirinya Jemaat DHI ini.

Keluarga Sidharta Enoch (Samuel “Elko”, Bpk Jack, Natasha, Ibu Ruth)
Keluarga Sidharta Enoch (Samuel “Elko”, Bpk Jack, Natasha, Ibu Ruth)

Di tahun 1989 datang keputusan Pimpinan Uni untuk memindahkan Pendeta Rumayar dalam pelayanan dari jemaat Tanjung Anom, Daerah Jawa Timur ke daerah DKI tepatnya di Jemaat Cililitan. Uniknya, setelah tiba di Jakarta, justru datang keputusan baru bahwa Pdt Rumajar harus kembali ke Jawa Timur dan ditempatkan di Jemaat Tidar yang berlokasi di Jalan Tidar No. 21. Rencana Tuhan berjalan melalui keputusan dan peristiwa-peristiwa selanjutnya.

Di Jemaat Tidar saat itu, beranggotakan anggota-anggota yang berdomisili di hampir seluruh wilayah Kota Surabaya. Masing-masing wilayah ini membentuk kelompok-kelompok kecil yang saat itu secara aktif berkumpul membahas Firman Tuhan dan aktif dalam penginjilan. Ada yang dari bagian barat (Tandes, Simo Gunung Barat Tol & Kupang Gunung), dari selatan (Kutisari), dari tengah (Jl Kartini), dan dari timur (Dharmahusada) Kota Surabaya. Kelompok-kelompok ini hanya sebatas menjadi Kelompok Kecil saja waktu itu dan belum merupakan Jemaat-jemaat. Nama-nama yang cukup berperan saat itu di Jemaat Tidar dalam pengembangan kelompok-kelompok kecil ini seperti Sdr Tony Han, Bpk Abraham, Bpk Billy Moningka, Bpk Frans Watimena, dll. Belakangan kelompok-kelompok kerja ini berkembang dan akhirnya diorganiser menjadi jemaat-jemaat yang baru. Namun dari antara kelompok-kelompok kecil ini ada sesuatu yang unik dengan kelompok yang ada di timur yakni di Dharmahusada Indah.

Sidang Jemaat Tidar. Jalan Tidar No. 21
Sidang Jemaat Tidar. Jalan Tidar No. 21

Diantara anggota-anggota jemaat Tidar saat itu, terdapat satu keluarga yang saat itu cukup berperan dalam hal keuangan tapi tidak terlalu aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Keluarga ini adalah Kel Ali Subandi. Keluarga ini adalah keluarga yang sangat diberkati Tuhan dalam usaha mereka. Bpk Ali Subandi sendiri adalah seorang Pengusaha Elektronik yang sukses dan beristrikan Ibu Ratnaningsih atau lebih dikenal dengan sebutan Ibu Ali. Ibu Ali sendiri adalah keluarga Advent dari Kediri dan memiliki saudara-saudara yang sangat aktif dalam pekerjaan Tuhan

seperti Ibu Syeni Adibusana, yang saat itu menjabat sebagai Bendahara Jemaat Tidar, Bpk Yoes Endranata, & Ibu Liem Robby (anggota Jemaat di Semarang). Keluarga Bpk Ali Subandi memiliki tiga orang anak, Jeanne, Troy dan Angely yang ketika itu masih sementara bersekolah di Amerika Serikat dan Kanada. Keberadaan Keluarga Subandi yang significant dalam perjalanan Jemaat DHI dari awal berdirinya bahkan sebelumnya, adalah merupakan salah satu “mosaic gambar” yang penting dalam sejarah Jemaat DHI ini.

Keluarga Ali Subandi (Jeanne, Troy, Angely, Ibu Ratnaningsih,Bpk Ali)
Keluarga Ali Subandi (Jeanne, Troy, Angely, Ibu Ratnaningsih,Bpk Ali)

Ibu Syeni Adibusana yang merupakan kakak kandung dari Ibu Ali Subandi, tinggal bersama tantenya yang dikenal dengan nama Ibu Toes, bertempat tinggal di Jl Kartini dan di rumahnya saat itu sering diadakan kebaktian kelompok kecil yang merupakan salah satu kelompok kerja dari jemaat Tidar. Ibu Toes yang juga merupakan tante dari Ibu Ali, memiliki keinginan agar keponakannya yakni Ibu Ali bersama dengan suaminya Pak Ali dan anak-anak mereka supaya aktif di gereja. Maka atas permintaan dan inisiatif Ibu Toes-lah maka akhirnya Pdt Rumajar yang saat itu sementara melayani kelompok-kelompok kecil di Jemaat Tidar datang berkunjung ke rumah kediaman kel Bpk Ali Subandi di Dharmahusada Indah Utara, Blok M No 72. Kebetulan saat itu dua di antara tiga anakanak dari Kel Subandi yang sementara bersekolah di luar negeri, pulang dan berada di Surabaya, yakni Jeanne dan Angely, maka kesempatan yang ada digunakanlah oleh Pdt Rumajar untuk memulai pelajaran Alkitab untuk kedua anak dari Kel Subandi dan sekaligus untuk keluarga Subandi. Dari pertemuan-pertemuan inilah maka terjadilah pengenalan dan persahabatan yang lebih akrab di antara Kel Subandi dengan keluarga Gembala Jemaatnya, Pdt Rumajar. Namun peranan Ibu Toes dan didukung oleh Ibu Syeni tanpa disadari telah menjadi salah satu “mosaic gambar” yang penting dalam sejarah awal mula berdirinya jemaat DHI.

Satu hal yang menyenangkan adalah setelah beberapa waktu persahabatan itu berlangsung, maka keluarga Subandi khususnya Pak Ali Subandi yang tadinya tidak terlalu aktif di gereja, mulai aktif dan terlibat dalam pelayanan-pelayanan di gereja. Mereka yang sebelumnya hanya berpartisipasi melalui keuangan, saat itu mulai turut serta dan terjun langsung dalam pelayanan. Bersama-sama dengan keluarga Pdt Rumajar, Pak Ali dan Ibu mulai ikut terlibat dalam kunjungan pelayanan ke rumah-rumah keluarga-keluarga di Jemaat Tidar dan hal itu adalah sesuatu yang luar biasa jika dilihat dari keadaan keluarga ini dalam partisipasi mereka di gereja sebelumnya. Lambat laun Bpk Ali Subandi semakin aktif dalam pelayanan gereja.


Sementara waktu berjalan, Pdt Rumajar yang saat itu bukan lagi menjadi gembala jemaat Tanjung Anom, tetap aktif memberikan pendalaman Alkitab khusus kepada Bpk Jack Sidharta (setiap hari Jumat) yang saat itu belum juga mau dibaptiskan. Keluarga ini kebetulan tempat tinggal mereka tidak begitu jauh dari tempat tinggal keluarga Subandi yang hanya berbeda beberapa blok saja. Timbul keinginan Kel Pdt Rumajar untuk mempertemukan dua keluarga ini untuk satu maksud yang lebih besar. Belakangan justru dari pertemuan dua keluarga inilah, menjadi awal mula Gereja MAHK Jemaat Dharmahusada Indah ini berdiri dan berkembang selain dari pengembangan kelompok kecil di Jemaat Tidar. Dengan berjalannya waktu, keluarga Subandi yang tadinya tidak begitu aktif menjadi aktif sedangkan keluarga Sidharta hanya Ibu Ruth dan anakanaknya saja yang aktif sebagai anggota Gereja Advent, sedangkan bapak Sidharta belum juga dibaptiskan menjadi anggota gereja MAHK pada saat itu.

Rumah Keluarga Subandi

Sementara itu di Jemaat Tidar sendiri saat itu telah ada kelompok-kelompok kecil yang terus berkembang dan bertambah keanggotaannya dan dipimpin oleh kaum awam yang begitu aktif dalam penginjilan. Salah seorang dari anggota Jemaat Tidar yang begitu aktif dalam pelayanan penginjilan adalah Bpk Suljadi Abraham atau biasa dipanggil Pak Bram. Bpk ini setelah dibaptiskan, begitu berkobar-kobar dalam mencari jiwa dan dia benar-benar sangat menjiwai arti dari perkataan Yesus dalam Kisah 1:8, “kamu harus menjadi saksiku di Yerusalem & diseluruh Yudea & Samaria & sampai ke ujung bumi.” Awalnya sebelum menikah Bpk Abraham ini sudah dibaptiskan menjadi anggota Gereja MAHK sementara istrinya belum. Namun selanjutnya pak Bram benar-benar menjadi saksi yang dimulai dari Yerusalem yakni keluarganya terdekat. Dimulai dengan istrinya Ibu Winda terlebih dahulu dibaptis, setelah istrinya, diikuti dengan adik dan kakak dari istrinya dibaptis, Ibu Sari & Pak Yoyo Suhadi, Ibu Lily Sintasari, Ibu Sisy bahkan mertuanya, ibu Eryun. Juga anak dan keponakannya, David & Melanie. Dari seorang bapak Suljadi Abraham maka hampir seluruh keluarga istrinya akhirnya dibaptiskan menjadi anggota Gereja MAHK. Belakangan keponakannya yang lain juga akhirnya dibaptiskan Bpk Pung Hartono, Ibu Rita Hartono (keduanya akhirnya menjadi bagian dari baptisan pertama yang diadakan di Jemaat DHI setelah berdiri). Mereka semua ini, menjadi bagian dari kelompok kecil yang sering diadakan di rumah Ibu Toes dan Ibu Syeni di Jln Kartini No 11. Khusus membicarakan Kelompok Kecil di Jl Kartini ini adalah sesuatu yang luar biasa. Mereka begitu aktif dan sangat dekat satu dengan yang lain. Mereka saling memperhatikan tidak hanya dalam hal rohani saja tetapi juga dalam hal materi. Peranan keluarga dari Pak Bram, yang akhirnya dikenal dengan sebutan “Keluarga Darmo” karena tempat tinggal mereka semuanya di daerah Darmo Permai, tidaklah kecil karena akhirnya keluarga-keluarga ini terlibat aktif dalam pelayanan gereja DHI dari awal mula sampai saat ini. Pak Abraham tercatat menjadi Sekertaris Jemaat yang pertama untuk jemaat DHI. Kel dari Darmo Permai menjadi salah satu “Mosaic gambar” yang penting dalam sejarah permulaan berdirinya jemaat DHI.

Setelah waktu berjalan, atas rencana dan prakarsa Pdt Rumajar dan ibu, akhirnya dua keluarga di Dharmahusada Indah dipertemukan, Kel Bpk Ali Subandi dan kel Bpk Jack Sidharta. Dan akhirnya dimulailah sebuah kelompok kecil yang baru. Kelompok ini dimulai dan berjalan sebelum Gereja DHI berdiri. Dalam kelompok kecil ini, terdapatlah Bpk. F. Kemby dan Ibu Meity Kemby. Keluarga ini merupakan sahabat dari Kel Sidharta. Keluarga ini pada saat itu belum menjadi anggota Gereja MAHK. Mereka masih merupakan simpatisan dan belum dibaptiskan. Mereka selalu diajak untuk mengikuti kelompok kecil ini yang diadakan secara bergantian di rumah Kel Sidharta di DHI 19 blok D 59 atau di rumah Kel Subandi di DHI Blok M 72.

Bpk Suljadi Abraham dan Ibu Winda

Setelah waktu berjalan, atas rencana dan prakarsa Pdt Rumajar dan ibu, akhirnya dua keluarga di Dharmahusada Indah dipertemukan, Kel Bpk Ali Subandi dan kel Bpk Jack Sidharta. Dan akhirnya dimulailah sebuah kelompok kecil yang baru. Kelompok ini dimulai dan berjalan sebelum Gereja DHI berdiri. Dalam kelompok kecil ini, terdapatlah Bpk. F. Kemby dan Ibu Meity Kemby. Keluarga ini merupakan sahabat dari Kel Sidharta. Keluarga ini pada saat itu belum menjadi anggota Gereja MAHK. Mereka masih merupakan simpatisan dan belum dibaptiskan. Mereka selalu diajak untuk mengikuti kelompok kecil ini yang diadakan secara bergantian di rumah Kel Sidharta di DHI 19 blok D 59 atau di rumah Kel Subandi di DHI Blok M 72.


Diakhir tahun 1992, Jemaat Tidar yang saat itu telah memiliki beberapa kelompok kecil. Di antaranya di daerah selatan ( Kutisari, Jemur Sari, dll), daerah barat (Simo Gunung Barat tol, Tandes dan Kupang Gunung). Di Jemaat Tidar saat itu, kelompok-kelompok kecil ini telah berjalan dengan baik dan beberapa nama tercatat aktif dalam kelompok-kelompok kecil ini di antaranya Bpk Billy Moningka, Bpk S. Abraham, Bpk Tony Han, Bpk F Wattimena, dll. Belakangan dari kelompok-kelompok kecil inilah akhirnya menjadi cikal berdirinya beberapa jemaat baru lainnya . Dan khusus di timur oleh Pdt Rumajar dibuatlah satu kelompok kecil khusus yang merupakan perpaduan dari Kel Subandi & Kel Sidharta ditambah dengan beberapa anggota Tidar lainnya yakni Kelompok Kecil dari Kartini (Ibu Toes dan Ibu Syeni, Kel Yoes Endranata), dan Keluarga dari Darmo Permai di bawah pimpinan Bpk Abraham serta tamu tetap yakni Keluarga Kemby, sahabat dari kel Sidharta, dll. Belakangan, mereka-mereka inilah akhirnya menjadi bagian-bagian penting dari “mosaic-mosaic gambar” yang disatukan Tuhan dalam satu ikatan keluarga besar Jemaat Dharmahusada Indah pada awal mula berdirinya Jemaat Dharmahusada Indah melalui kepiawaian Pdt Rumajar yang merancang ikatan ini. Sejak dari situlah mulailah persahabatan di antara saudara-saudara baik yang seiman dan maupun yang belum seiman dibina dalam kelompok kecil ini. Dari persahabatan yang baik dan pelajaran yang diberikan secara intensif oleh Pdt Rumajar, akhirnya dari kelompok ini maka dibaptiskanlah, Bpk Jack Sidharta, Ibu M Kemby, & Lisa pada tanggal 31 Juli 1993. Dan baptisan ini diadakan di gereja Tanjung Anom oleh Pdt Rumajar. Uniknya Bpk Jack Sidharta sudah sangat aktif dari awal berdirinya Gereja DHI justru sejak sebelum dibaptiskan. Belakangan bersama dengan Bpk Ali Subandi, mereka inilah menjadi tulang punggung penting yang saling bahu membahu laksana saudara kandung dalam pekerjaan Tuhan pada masa awal berdirinya Jemaat Dharmahusada dan menjadi pioneer gereja DHI diawal berdirinya jemaat ini sampai saat ini.


Sementara itu, setelah kelompok kecil di Dharmahusada terbentuk dan Bpk Ali Subandi sudah mulai aktif dalam pelayanan, tanpa diketahui oleh seorangpun, Pak Ali telah membuat sebuah rencana dengan membeli tiga buah kapling tanah perumahan di Blok U dan merenovasinya menjadi satu bangunan besar yang nantinya menjadi Gereja Advent Dharmahusada Indah. Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Subandi dan Kel Sidharta, yakni di Blok U no 403-405. Bangunan inipun akhirnya selesai dan untuk pertama kali digunakan untuk sebuah acara pernikahan anak dari Kel Subandi, yakni Jeanne yang menikah dengan Bambang. Acara itu diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1992. Dan setelah itu bangunan itu belum digunakan lagi kembali sampai tanggal 16 Januari 1993 tepatnya pada hari Sabat, bangunan ini digunakan sebagai kebaktian Sabat. Tanggal inilah yang menjadi tonggak sejarah awal berdirinya Jemaat Dharmahusada Indah. Dan semenjak hari itulah sampai saat ini, Gereja MAHK Jemaat Dharmahusada Indah berdiri.

Gereja MAHK DHI. Dharmahusada Indah Utara Blok U no 403-405

Membicarakan peranan Bpk Ali Subandi dalam berdirinya gereja ini, sungguh sesuatu yang luar biasa. Beliaulah bersama dengan Ibu Ali tidak hanya mengorbankan uang mereka yang tidak sedikit dalam permulaan berdirinya jemaat ini, tetapi juga waktu dan tenaga mereka. Melalui berdirinya gereja Dharmahusada Indah ini, bisa disebutkan bahwa iman Bpk Ali Subandi semakin bertumbuh. Beberapa tahun sebelum gereja ini berdiri, Pak Ali mestinya telah divonis dokter Jantung, umurnya tidak akan bertahan lama. Tapi Tuhan punya rencana melalui beliau, Ia memperpanjang 13 tahun lagi sehingga Pak Ali yang mestinya sudah dipanggil Tuhan sejak tahun 1990 masih meneruskan pelayanan dan dedikasinya untuk mendirikan bangunan gereja yang tidak hanya dinikmati oleh seluruh keluarga besarnya, tapi juga sahabat-sahabat dan orang-orang lainnya hingga akhir hayatnya di Tahun 2003. Hal yang istimewa lainnya yang sudah dilakukan beliau bersama keluarga yakni bersama dengan Pdt Basir Sucipto dan Bpk Yoes Endranata, merekalah yang telah melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat sekitar yang memungkinkan bangunan dan kegiatan gereja DHI sampai sejauh ini berlangsung dengan baik dan tidak memiliki masalah sosial dan sampai hari ini menjadi sebuah “tradisi” yang sangat baik yang dilakukan setiap tahunnya dijemaat DHI yakni memberikan berbagai kebutuhan pokok masyarakat di sekitar gereja khususnya dari mereka yang berasal dari golongan yang kurang mampu.

Persiapan membagikan sembako ke tetangga disekitar gereja

Berdirinya Jemaat Dharmahusada Indah ini juga tidak lepas dari berpisahnya Jemaat Tidar yang berlokasi di Jl Tidar No 21 menjadi beberapa Jemaat. Peranan Pdt Rumajar yang membagi dan menyatukan kelompok-kelompok kecil di Jemaat Tidar yang akhirnya menjadi 5 jemaat (Tidar 1, Tidar 2, Tandes, Kupang Gunung dan Dharmahusada Indah), sangatlah besar. Beliau dengan begitu piawai menyatukan anggota-anggota dalam kelompok-kelompok yang ada dari berbagai latar belakang dan tempat tinggal yang berbeda-beda. Sebagian dari anggotaanggota dari ex Tidar ini, di antaranya Kel H. Coloay, Kel Sukro, Kel B. Moningka, Ibu Suratno, Bpk Mardianto dan beberapa nama lainnya, digabungkan menjadi anggotaanggota gereja Dharmahusada indah. Dan anggota-anggota dari jemaat ex Tidar inilah akhirnya menjadi salah satu “mosaic gambar” yang penting dalam sejarah awal berdirinya jemaat DHI.

Hal yang tentunya tidak dapat diabaikan dalam hal ini adalah, peranan Pdt Rumajar saat itu sebagai gembala Jemaat Tidar sehingga memungkinkan beliau mengatur anggotaanggota yang ada saat itu dan menyatukan mereka kepada lima jemaat yang berbeda termasuk Jemaat Dharmahusada Indah dengan penuh rasa persaudaraan yang penuh cinta. Sampai hari ini di Kota Surabaya, adalah selalu merupakan pertemuan yang sangat istimewa dan mengesankan bila lima jemaat ini bergabung dalam acara-acara ibadah karena sesungguhnya ini adalah pertemuan 5 bersaudara yang begitu erat dan intim sebagai anak-anak Tuhan. Gereja Dharmahusada Indah-pun diawali dengan rasa kekeluargaan yang begitu erat dan intim dan ini menjadi ciri Jemaat DHI sejak awal berdiri sampai saat ini.


Pdt. Dr. H.I. Missah juga mempunyai peranan yang tidak kalah penting dalam berdirinya Gereja Dharmahusada, karena dalam periode kepemimpinan beliaulah sebagai Ketua Daerah Jawa Timur (1990-1995), gereja ini berdiri. Beliau banyak memberikan saran dan arahan dalam kapasitasnya sebagai pimpinan daerah dalam perpisahan 1 jemaat Tidar dan menjadi 5 Jemaat yang baru kepada Pdt Rumajar sebagai Gembala Jemaat Tidar saat itu dan akhirnya kemudian menjadi Gembala Jemaat Dharmahusada Indah. Dalam perkembangan selanjutnya, tidak lama setelah berdiri, pertambahan keanggotaan Gereja Dharmahusada juga cukup pesat. Selain beberapa saudara-saudara dari Manado khususnya orang-orang muda tamatan dari Universitas Klabat seperti saudara Yan Pandi, Lexi Weley, Teddy Sakul, Roger Tambingon, dll dan saudara-saudara lainnya dari kawasan timur lainnya seperti Sdr Dolvy Elvianes yang menikah dengan Linda Monica di gereja DHI, dll dan juga anggota-anggota gereja Advent dari Jemaat sekitar, seperti Kel Yusuf Bintoro, dan belakangan Sdr Eric Lasut, dll mereka semuanya bergabung di Jemaat Dharmahusada Indah yang akhirnya menjadi bagian dari “generasi awal” keanggotaan Jemaat DHI. Pdt Rumajar akhirnya menjadi Gembala pertama sekaligus Pioneer berdirinya Jemaat Dharmahusada Indah selain keluarga-keluarga yang telah disebutkan di atas. Pada pertengahan Tahun 1993, tepatnya bulan Juli, setelah KKR yang diadakan oleh Pdt Rumajar maka diakhir acara tersebut diadakanlah baptisan untuk 4 jiwa yang baru, Bpk F. Kemby, anaknya Erika, Bpk Pung Hartono dan Ibu Rita Hartono, mereka inilah menjadi baptisan pertama di awal berdirinya gereja Dharmahusada Indah.

Babtisan pertama; Bpk. F. Kemby, Erika Kemby, Ibu Rita Hartono, Bpk Pung Harono

Akhirnya mengikuti sejarah DHI bagaikan melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja melalui hamba-NYA Pdt Rumajar diawal berdirinya gereja ini. Tuhan melalui hambaNYA ini bagaikan merangkai “mosaic-mosaic gambar” yang terpisah satu dengan lainnya yang dipersatukan menjadi sebuah “gambar yang utuh” yakni Jemaat Dharmahusada Indah dalam perjalanan waktu. Saat ini setelah 26 tahun kemudian gambar itu semakin indah warnanya dan semakin cerah terlihat dengan pertumbuhan & pertambahan keanggotaan, bukan hanya anggota-anggota lama saja tetapi bertambah dengan banyak anggota-anggota baru yang sangat aktif dan berperan dalam kegiatan-kegiatan pelayanan baik didalam maupun keluar gereja dan tentunya dengan melalui pertumbuhan kerohanian anggota jemaat. Kini setelah perjalanan panjang sampai 26 tahun telah dijalani maka satu hal yang dapat diyakini adalah sesungguhnya sejarah DHI adalah merupakan sejarah “tangan Tuhan” yang bekerja terus menerus untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-umatNYA dan gereja yang dikasihi-NYA sampai hari ini. Setelah 26 tahun berdirinya Jemaat Dharmahusada Indah, maka seperti kata Samuel dalam / Samuel 7:12, “Eben-Haezer,…"Sampai di sini TUHAN menolong kita," kamipun Jemaat Dharmahusada Indah mengucapkan perkataan yang sama.

Bpk. Jusuf Bintoro dan Bpk. F. Kemby